Traveling untuk Pemula

Zaman sekarang, wajib hukumnya untuk menunaikan rukun iman yang ke-TUJUH. Yaitu,Traveling-lah selagi mampu atau tidak mampu (harap dimampu-mampu-in aja). Kenapa harus begitu?? Karena traveling harus menjadi kebutuhan hidup primer, dengan traveling, kita akan merasa segar kembali dari kejenuhan rutinitas, dan menghilangkan stress.

Jangan anggap sepele ‘Stress’ lho, menurut para ahli stress akan memicu sakit jantung, stroke dan penyakit yang enggak asik lainnya deh. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?? Yaitu, dengan traveling. Ngabisin duit buat Traveling lebih bermanfaat dibanding ngabisin duit buat ke dokter, beli obat dan nginap di rumah sakit. Saya belum pernah nginap di Rumah Sakit, nggak mau deh – please, mending nginap di hotel atau hostel.

Saya temui, ternyata banyak  yang belum sadar akan pentingnya Traveling itu. Sebagian besar kita masih menganganggap Traveling itu buang-buang uang dan waktu, pemborosan, perbuatan pamer dan narsis, kebutuhan sekunder yang nggak penting. Salah BESAR.

Banyak banget manfaat dari traveling, diantaranya;

  • Melihat dunia dan budaya yang baru apakah itu dari bahasa, makanan dan kebiasaan penduduk setempat.
  • Melihat sesuatu yang baru akan merangsang kreatifitas.
  • Menambah pengalaman atau teman baru.
  • Melihat suatu tempat dari kacamata sendiri, jauh lebih terpercaya daripada hanya mendengar apa kata orang atau media. Setiap orang punya pandangan masing-masing, kalau menurut si X atau media ABC tempat Y adalah surga dunia, belum tentu kita punya pandangan yang sama.
  • Dari poin diatas, traveling bikin kita jauh lebih kritis dan jujur dalam menilai. Kita punya opini sendiri yang beda, bukan ‘apa kata orang’ atau ‘apa kata majalah atau buku panduan wisata ini dan itu’.
  • Dibanding shopping barang-barang mahal atau menghabiskan uang hura-hura tiap akhir pekan menjadi anak gaul atau ratu disco di Club,- menurut saya sih, jauh lebih bijaksana uang itu saya pakai untuk beli tiket pesawat atau kereta, bayar hostel dan berkelana di luar sana.Yang saya dapat memang bukan ‘benda’, tapi pengalaman yang jauh lebih berharga daripada tas atau jam tangan mahal, yang suatu hari nanti benda-benda itu akan rusak, tak ada gunanya. Traveling, akan jauh lebih berbekas dan memori yang tak akan padam oleh waktu.

Namun, karena Traveling belum menjadi hal yang umum di budaya kita, dibandingkan dengan orang Eropa yang dari nenek moyangnya sudah mengembara dari kutub utara ke selatan dan menemukan benua serta negara jajahan, orang kita banyak yang bingung bagaimana cara Traveling. Rasanya saya perlu menulis topik tentang; “Traveling for Dummies”, di blog ini.

Karena, there’s always a first time for everything. Kalau tidak sekarang, kapan lagi…

7 Hal penting yang perlu diketahui bagi pemula;

1. “There is nothing to fear, but fear itself”

Takut adalah alasan yang saya sering dengar kenapa tidak Traveling. Bahkan, ada yang rela membatalkan tiket pesawat karena temannya batal berlibur karena urusan mendadak, alasan klise yang saya sering dengar, “apa asiknya traveling tanpa teman’

Ah, sungguh keliru. Bahkan saat traveling seorang diri, kita akan mudah nemu teman di jalan. Sebenarnya, yang ditakuti itu adalah ketakutan itu sendiri.

Contoh, kita takut nyasar, padahal jalan aja belum. Oh, takut kecelakaan pesawat terbang, padahal dari sekian ribu pesawat yang terbang hanya sekian persen yang jatuh. Kalau semuanya ditakuti, yah.. duduk di rumah pun, kita juga bisa kecelakaan.

2. Paspor atau Visa.

Paspor merupakan dokumen perjalanan yang dikeluarkan oleh imigrasi dalam negeri, atau lebih mudahnya, KTP kita di luar negeri. Kalau mau ke luar negeri, yang paling penting dipersiapkan terlebih dahulu adalah paspor. Jangan sampai hilang ketika Traveling, karena mengurusnya di kedutaan akan sangat repot.

Ada beberapa negara yang memungkinkan kita untuk Traveling hanya menggunakan paspor tanpa tambahan visa, meski tidak sebanyak negara tetangga. Pendek kata, paspor kita nggak laku-laku banget, atau ngerepotin. :/

Dan, jangan menitipkan paspor ke tempat sewa sepeda motor ketika di luar negeri. Karena akan memberi kesempatan untuk Pencurian Identitas, dan memalsukan paspor yang akan diperjualbelikan secara gelap untuk Human Trafficking atau Asylum Seeker.

pasport

Sedangkan Visa, merupakan dokumen perjalanan yang dikeluarkan oleh imigrasi negara tujuan. Sebagai orang Indonesia, saya benci banget ngurus visa, karena selain paperwork yang melelahkan dan butuh waktu, uang visa yang kalau ditolak akan hangus dan jumlahnya juga sampai hampir jutaan atau bahkan lebih, Sakitnya itu di sini…. *nunjukin dompet*

Visa ini ada banyak jenisnya, dari visa turis, working holiday visa, visa pelajar, highly skilled immigrant visa namanya di Eropa dan Visa untuk foreign talent di Singapura dan masih banyak lagi. Errr, kalau Visa di kartu ATM, jauh beda lagi artinya

visa-belanda

****
3. Hostel, hotel, guesthouse dan sebagainya.

Bagi yang belum pernah ke luar negeri mungkin akan sedikit bingung dengan bedanya Hostel dan Hotel. Karena, Hostel belum begitu akrab bagi orang Indonesia. Kadang saya sering bingung, kelas Hostel juga dinamakan Hotel di Indonesia.

Hotel itu kamarnya banyak, harganya lebih mahal, dan kita bayar untuk satu kamar dapat berbagai macama fasilitas di kamar yang cukup dari TV Plasma, dan toilet, serta kolam renang sampai sarapan pagi yang banyak pilihan.

Sedangkan Hostel, jumlah kamar yang lebih sedikit, harganya jauh lebih murah dan memungkinkan kita untuk menginap dalam jangka panjang, jangan kaget kalau di hostel kamu harus berbagi kamar dengan orang asing, dan pagi-pagi liat bule dengan kolor doang….  begitulah hostel. Kamu bayar per tempat tidur, bukan satu unit kamar.

Saya suka Hostel dibanding Hotel, apalagi kalau Traveling sendiri. Di Hostel sangat mudah menemukan teman, sarapan pagi yang sederhana dan semuanya self-service, ingat, menginap di hostel, sehabis makan atau minum jangan lupa cuci gelas dan piring sendiri.

Dan menginap di Hostel pun, kita harus punya etiket. Seperti kalau sudah lewat jam 10 malam, jangan teriak-teriak tentunya menganggu teman sekamar yang siapa tau dia perlu tidur lebih awal untuk mengejar penerbangan pagi. Kalau mau buka ransel, atau Locker dengan pelan-pelan. Siap kan gembok untuk Locker masing-masing, dan lampu baca agar tidak menganggu teman sekamar saat kita perlu membaca sebelum tidur.

Dan Guesthouse, kadang seperti Hostel. Yang saya temukan perbedaannya, biasanya Guesthouse, pemiliknya berdomisili tidak jauh dari penginapan yang kita sewa. Harganya juga miring, cocok buat long-term traveler.

bunkbed

Bunkbed di Glur Hostel, Krabi. Sangat nyaman, dengan sekat yang menjaga privasi, kan malu kalau lagi tidur ngangap dan ileran.

Yang saya suka, dari hostel ini, hoaaaa… Jendela-nya. Bagi saya, kamar tanpa Jendela adalah tubuh tanpa Jiwa.

*******

hostel

Dorm hostel di Saigon

kl-hostel

Double Room di Hostel Kuala Lumpur

hostel-thai

Pantry di Hostel, semuanya Self-Service.

***
4. Budget vs full service airline..

Untuk kantong backpacker, budget airline menjadi pilihan utama. Harganya lebih murah dibanding Full-Service airline, karena pada Budget airline, kita tidak disuguhkan makanan gratis selama perjalanan. Kalau ingin memesan makanan, yah, buka dompet lagi. Budget airline untuk penerbangan tidak jauh dari 3 jam, mungkin okay lah. Tapi lebih dari itu, Full-Service airline akan sangat menyenangkan bagi saya.

***
5. Backpack atau koper

Sebenarnya Backpack dan Koper ini kembali pada selera masing-masing. Saya suka Backpack dan juga suka koper, kebetulan saya punya koper yang bisa dijadiin Backpack, jadi lebih fleksibel untuk diajak berkelana.

Keuntungan dari Backpack, ketika menginap di Hostel yang harus naik tangga beberapa lantai, dan biasanya Hostel tidak menyediakan Eskalator, Backpack akan sangat praktis dibanding koper. Apalagi kalau kita melakukan Road-Trip, yang mengharuskan kita naik turun angkutan umum dari Kereta, minivan atau Tuk-Tuk.

Koper lebih cocok untuk perjalanan bisnis, yang kita sudah tau mau nginap di hotel mana, dijemput dari bandara sampai hotel. Atau kalau punggung udah tua atau pernah kecelakaan, jangan paksakan menyandang ransel. Yang penting kenyamanan, jangan asal ikut-ikutan.

depan-hostel
6. Just one way ticket atau round trip.

Nah, ini pula yang nggak begitu akrab di ‘traveler’ kita. Just One Way Ticket istilah yang sangat wajar bagi backpacker dari Eropa atau Amerika. Karena Gap Year sudah hal yang biasa bagi mereka. Beli tiket satu tujuan, tanpa tau kapan akan pulangnya. Biasanya mereka pulang untuk satu tahun kemudian, nggak mungkin kan beli round trip tickets setahun sebelumnya.

Kalau untuk Traveling disekitar ASEAN, saya hampir nggak pernah beli tiket pulang. Menurut saya sih konyol aja. Karena, saya paling nggak suka masuk dan keluar dari bandara dari negara yang sama.

Sayangnya, imigrasi dunia pun kurang adil dengan memperlakukan warga negara dari dunia ke tiga. Seperti kita-kita ini. Tak lain, karena ketakutan mereka kita akan menjadi pendatang gelap tanpa tiket pulang dan menyusahkan negara mereka. Beda dengan teman blogger saya yang orang Amrik, seperti komentarnya di artikel saya tentang Visa Runner. Sangat mudah baginya keluar masuk imigrasi negara lain bahkan sampai 7 atau 8 kali tanpa diinterogasi dan dicurigai, bahka sebagai Digital Nomad, dia traveling tanpa tiket pulang.

Dan kenapa kita dari negara dunia ke tiga selalu diperlakukan secara tidak adil ?? Yang lucunya, Kewajiban Round Trip Tickets ini dianggukkan oleh sebagian traveler lokal yang saya jumpai.

***
7. Refleksi. (eit, bukan Refleksi buat kaki yaaaaa …)

Traveling tidak hanya pembuktian kita pernah sampai ke lokasi X, Y , Z dan sebagainya. Saya sering merasa lucu kalau mendengar kalimat, “oh kamu udah ke negara ini, apa??!! … udah nyampe sana kamu nggak sempat ke sini, sana “(misal, tempat wisata terkenal yang sangat mainstream).

Atau istilah, “Belum ke Eropa kalau belum pernah ke Paris”, menurut saya istilah ini terlalu klise. Kita tidak harus ketempat wisata X karena orang banyak ke sana. Saya lebih suka memilih tempat yang beda, yang tidak begitu touristy.

Beberapa tahun lalu, teman Berlin saya ke Congo, waktu saya cerita ke beberapa orang teman saya lainnya, reaksi mereka, “untuk apa ke Congo ?? Apa yang bisa dilihat di sana??”

Nah, sebagai travel blogger, itulah tugas kita… mencari tempat yang belum begitu banyak orang kunjungi. Apa menarik dan uniknya ke Paris, dan menulis tentang Paris, sementara ada jutaan artikel tentang Paris di worldwide sana.

Traveling bukan kompetisi, karena teman sudah ke Paris, oh, kita nggak mau kalah dan mati-matian ingin ke Paris. Bagi saya traveling bukan mencari pantai dengan air sebening kristal, pasir putih yang lembut, no, no…….. Dalam Traveling, saya tidak mencari surga,  tapi saya mencari perbedaan, dan hal-hal yang baru.

***

Traveling memang menyenangkan, namun hati-hati dengan efek samping dari Traveling yang sampai sekarang obatnya belum ditemukan. Yaitu, Nyandu!!!! Gejalanya sih, kaki mulai gatal, dan sering melamun sambil memandangi Instagram Matador Network, sering liat-liat tiket murah online. Sekali kamu traveling, melangkahkan kaki ke tempat yang baru, pasti akan ketagihan untuk mengembara ke tempat lainnya.

authorRahma loves writing & reading before she knows how to write and read. A geek who loves her spirit of individuality and has traveled solo since her early age.

4 Responses to “Traveling untuk Pemula

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

Enjoy this website? Please spread the word :)

%d bloggers like this: